NADIKABAR.COM — Mus Raga bergegas keluar dari rumahnya menuju posko utama BPBD Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Posko tersebut sebagai tempat menyimpan logistik dan kebutuhan utama lainnya bagi pengungsi gempa bumi magnitudo (M) 7,7. Selain itu, tempat strategis untuk memarkirkan kendaraan tanggap darurat.
Salah satunya, truk pengangkut air bersih. Setiap paginya, langkah kaki Mus cekatan menuju truk tangki berwarna kuning milik Kementerian PU, itu untuk memanaskan mesinnya.
Lantas, Mus juga harus rutin mengecek setiap orderan pemesanan air bersih di posko BPBD Nagekeo. Profesi ini sudah ia tekuni belasan tahun. Saat ini, Mus berstatus sebagai tenaga kontrak di kantor BPBD Nagekeo.
Sejak bencana gempa yang mengguncang Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026) lalu, Mus selalu siaga sebagai seorang yang tak luput berurusan dengan pelayanan air bersih.
Mus sering diperhadapkan dengan guncangan gempa susulan terus yang mengintainya. Namun, ia tak mundur meski rasa takut dan panik dalam bayang-bayangnya.
Hari demi hari, Mus tak lelah. Namun, tiga hari setelah gempa dahsyat itu, ia jatuh sakit. Tubuh pria berusia 33 terasa remuk, batuk, pilek dan panas tinggi menyerangnya bertubi-tubi. Hal itu terpaksa membuatnya harus izin selama dua hari.
"Awal gempa itu kami sudah mulai melakukan aktivitas tanggap darurat seperti antar air bersih ke setiap posko. Dan memang guncangan gempa itu sering saya rasakan saat bawa truk," ujar Mus saat ditemui di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Nagekeo, Selasa (1/9/2026).
Gus menuturkan untuk distribusi air bersih didominasi oleh masyarakat Desa Marapokot, Nangadhero, dan Tonggurambang. Ketiga desa ini paling banyak terdampak gempa.
Di lain sisi, sebagian besar warga mengungsi ke Kota Mbay, Ibu Kota Nagekeo. Setiap hari, Gus melayani pengantaran air bersih sebanyak 7-8 kali untuk lokasi terdekat. Sedangkan, lokasi terjauh hanya 2-3 kali dalam sehari.
"Kendala utama itu rata-rata itu soal jarak pengantaran ke setiap desa dan juga banyaknya permintaan air bersih," tutur Mus.
Menurut Mus, pelayanan air bersih itu sebagai kepedulian dan rasa kemanusiaan dan juga sebagai tugas utama selama ini. Selain itu, pengungsi yang berasal dari wilayah pesisir sangat membutuhkan air bersih.
"Mau bagaimana lagi semuanya karena hal kemanusiaan dan tanggung jawab dalam pekerjaan," pungkas Mus.