NADIKABAR.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) mengintegrasikan rantai pasok lokal secara digital untuk menyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya untuk memperkuat kedaulatan pangan di Indonesia.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny mengemukakan penguatan ekosistem rantai pasok dan sumber daya manusia di daerah juga menjadi bagian penting dalam revolusi MBG 2.0. BGN telah mengintegrasikan rantai pasok lokal secara digital agar prosesnya berlangsung lebih cepat dan efisien.
"Hadirnya Loka MBG mengintegrasikan rantai pasok lokal secara digital, cepat dan efisien. Langkah ini kian lengkap dengan hadirnya Patriot Gizi, yang memberdayakan tenaga Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di setiap wilayah dan dibina menjadi garda terdepan sebagai edukator keamanan pangan, penggerak program, hingga pendata dampak langsung di tengah masyarakat," ujar Tysa di Jakarta, Rabu.
BGN juga terus memperkuat keamanan pangan dan membenahi tata kelola melalui penerapan label pada ompreng yang memuat batas waktu aman konsumsi MBG.
Transformasi juga diarahkan pada perluasan akses program ke wilayah yang memiliki tantangan geografis dan kebutuhan gizi yang lebih tinggi. BGN telah melakukan aktivasi hampir 1.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T) serta prevalensi stunting tinggi dan tinggi sekali, dengan rincian 480 SPPG di Indonesia bagian timur dan 980 SPPG di Indonesia bagian tengah.
Transformasi tersebut menjadi penanda bahwa perluasan program harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola dan pengawasan. MBG 2.0 tidak semata-mata diarahkan untuk memperbesar skala program, tetapi memastikan setiap proses berjalan dengan standar yang semakin baik.
"Hari ini, kita melanjutkannya dengan ketertiban dan tanggung jawab. MBG 2.0 bukan tentang program yang lebih besar, melainkan program yang lebih benar. Skala besar, standar tinggi, karena anak Indonesia layak dapat yang terbaik," tuturnya.
Saat ini, Program MBG telah berjalan dalam skala besar dengan total penerima manfaat mencapai 57.491.334 jiwa, melibatkan 1.027.998 tenaga kerja, serta didukung oleh 26.385 SPPG yang telah beroperasi.