Dalam praktik itu, kemungkinan besar siswa akan diberikan alat celemek dan sarung tangan untuk menyajikan makan. Hal ini kata Sudaryono seperti apa yang telah diterapkan siswa di Jepang.

"Kemudian juga ada fungsi edukasinya. Tentu saja ini membutuhkan semacam kerja sama. Jadi kalau prasmanan ini, yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa. Jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang gitu lah," katanya.

Dia menegaskan bahwa makanan yang disajikan tetap dimasak di SPPG. Setelah di masak di SPPG, baru kemudian makan tersebut di bawa ke sekolah dan disajikan dalam kondisi hangat.

"Ya kalau sekolahnya besar, siswanya banyak, ada yang dimasak di sekolah. Sama kayak di kita kan sama. SPPG ada di dalam pesantren misalnya, karena pesantrennya apa, santrinya lebih dari 1.000, dia bisa bikin dapur di dalam, sama aja sebetulnya," katanya.

"Cuman di banyak negara, kami sudah melihat kemarin JICA dengan Jepang kemarin itu, itu kemudian central kitchen. Jadi dimasak di central kitchen kemudian dibagi ke ke sekolah-sekolahnya tuh kemudian dalam bentuk dalam bentuk hangat-hangat prasmanan di kelas," sambungnya.