NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas akses pasar melalui penyelenggaraan Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026.
Gubernur BI Destry Damayanti, di Kupang, Sabtu, mengatakan transformasi FCE menjadi ruang promosi berbagai produk unggulan NTT penting untuk mendorong pengembangan produk lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Ini bukan hanya menggambarkan keberagaman dari produknya, tapi ini mencerminkan NTT keseluruhan. Ini adalah produk-produk unggulan keseluruhan NTT,” katanya pula.
Hal itu disampaikannya dalam FCE 2026 yang digelar pada 2-4 Oktober dengan fokus pada produk tenun, kuliner, dan kopi.
Destry mengatakan FCE tidak lagi hanya menampilkan kain tenun, tetapi juga mengangkat berbagai produk unggulan NTT seperti kopi dan kelor beserta produk turunannya.
Menurut dia, keberagaman produk tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Destry juga mendorong penguatan perlindungan hak cipta terhadap motif dan karya tenun NTT, agar memberikan perlindungan kepada para penenun sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk.
“Saatnya kita harus mulai meningkatkan hak cipta kita, karena apalagi untuk NTT dengan potensi yang besar, ini adalah menjadi sumber untuk ekonomi ke depan,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia juga menekankan penguatan ekonomi daerah perlu terus diarahkan pada pertumbuhan yang berkelanjutan dengan melibatkan UMKM dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kalau bilang berkelanjutan, itu adalah urusannya ekonomi kerakyatan, UMKM, masyarakat berpenghasilan rendah. Itu perlu menjadi prioritas dalam pengembangan kolaborasi,” katanya lagi.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT Adidoyo Prakoso mengatakan FCE 2026 menjadi wadah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui pemberdayaan UMKM dengan tema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan.”
Adidoyo mengatakan sejumlah program BI bersama Pemerintah Provinsi NTT diarahkan untuk memperkuat kapasitas UMKM, antara lain pengembangan ekosistem cabai dari hulu hingga hilir dan program peningkatan kapasitas serta kesiapan usaha UMKM.
BI NTT juga mendorong perluasan akses pasar melalui business matching ekspor. Salah satunya kerja sama ekspor kakao dari petani di Kabupaten Sikka dengan pembeli dari Australia dengan pengiriman awal sebanyak 20 ton senilai Rp1,1 miliar.
“Angka tersebut akan semakin besar seiring dengan peningkatan kebutuhan,” katanya.
Menurut Adidoyo, FCE 2026 juga menjadi ruang sinergi pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, dunia usaha, dan media untuk memperkuat daya saing UMKM NTT agar mampu berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Ia mengatakan FCE juga menghadirkan berbagai kegiatan yang dapat diikuti masyarakat, seperti masterclass, talkshow, perlombaan, edukasi, pemeriksaan kesehatan gratis, dan donor darah.
Ia juga menyampaikan UMKM yang berjualan dalam FCE telah menyatakan kesediaan menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk didonasikan kepada masyarakat terdampak bencana di Flores.