Ia membandingkan volatilitas rupiah yang berada di kisaran 7,30%. Sementara beberapa negara lain tercatat lebih tinggi, seperti Korea Selatan di level 15,6%, Filipina 8,7%, dan Malaysia 8,59%.

"Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74% dibandingkan posisi kita akhir tahun," jelasnya.

BI menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar melalui instrumen operasional seperti Non-Deliverable Forward (NDF) maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah intervensi ini ditujukan untuk menjaga agar pergerakan rupiah tetap sejalan dengan nilai fundamentalnya.

"Tentunya di dalam konteks mencoba balancing neraca pembayaran dengan kondisi neraca transaksi berjalan seperti itu, selain koordinasi dengan otoritas terkait, Bank Indonesia juga mencoba membalancing ini dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account," jelas Erwin.