Erwin mengatakan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini juga terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi (yield).
Sementara dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI juga dianggap menjadi sentimen yang menekan aliran modal. Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) domestik menjelang akhir bulan menambah tekanan terhadap rupiah.
Namun begitu, Erwin mengatakan pergerakan rupiah saat ini sejalan dengan mata uang negara kawasan. Adapun cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.