"Koreksi ini (IHSG) juga sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang juga terkoreksi pasca-rilis data inflasi AS September 2026 yang bergerak menguat ke 3,7% YoY, yang masih cukup jauh dari target inflasi The Fed," ucap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, kepada NadiKabar, Kamis (15/10/2026).
Kondisi ini disebut membuat bank sentral AS bersikap hawkish atau menetapkan arah kebijakan moneter yang ketat. Di sisi lain, The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi di tahun ini.
Herditya menilai, kenaikan suku bunga dan sikap hawkish The Fed akan meningkatkan imbal hasil US Treasury (UST). Imbasnya, negara-negara Emerging Market (EM) seperti Indonesia akan mengalami arus modal asing keluar.
"Akan ada kenaikan FFR 1 kali sebelum akhir 2026. Kami memperkirakan, dengan adanya nada hawkish ini, akan meningkatkan yield UST yang saat ini masih berada di atas 5% serta akan meningkatkan outflow dari EM," pungkasnya.