Sementara berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, terdapat beberapa sentimen utama penyebab rontoknya IHSG. Pertama imbas inflasi AS di atas ekspektasi, di mana Consumer Price Index (CPI) September naik melampaui konsensus menjadi 3,7% YoY dengan inflasi inti mencapai 2,6%.
Kondisi ini disebut akan memperkuat posisi dolar AS dan berpotensi menekan rupiah. Hal ini juga meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
Kemudian eskalasi konflik Timur Tengah yang kian memanas setelah adanya ancaman dari Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak yang memperbesar ketidakpastian pasar global.
Kemudian di China, tercatat surplus dagang bulan September mencapai US$ 133,53 miliar, dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi permintaan komoditas Indonesia meski dampak terhadap IHSG tertahan oleh sentimen global yang negatif.