NADIKABAR.COM — Gelombang demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan biaya hidup dan upah yang rendah, serta pemangkasan layanan publik berlangsung di berbagai wilayah Prancis. Demonstrasi yang semula damai berubah menjadi kerusuhan, kebakaran hingga penjarahan.

Melansir Viory, Senin (19/10/2026), gelombang aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan ini paling parah terjadi di wilayah ibu kota, Paris. Toko-toko, restoran, dan kendaraan di kawasan kota itu banyak yang habis terlalap api imbas pembakaran oleh para demonstran pada Sabtu (17/10) kemarin.

Dalam rekaman video yang beredar menunjukkan bagaimana toko-toko dan mobil-mobil di pinggir jalan dekat alun-alun kota Paris, Place de la Republique, dilalap api. Di kawasan inilah sejumlah kelompok paling banyak melakukan penjarahan tempat usaha dan merusak jalan-jalan di sekitarnya.

Asap tebal membubung dari bangunan-bangunan yang terbakar sementara petugas pemadam bergegas meredakan api. Di sisi lain kepolisian Prancis terus mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk menghadapi kelompok pengunjuk rasa

Dalam rekaman video lain, banyaknya gas air mata yang ditembakan petugas polisi membuat sejumlah layanan publik ikut terganggu. Salah satunya adalah sistem transportasi Metro Paris yang sempat penuh dengan kabut gas air mata.

Para penumpang, termasuk kelompok lanjut usia, mengalami kesulitan bernapas saat gas air mata dilaporkan menyebar di dalam sistem Metro. Kondisi ini sontak membuat para penumpang menutup hidung dan mulut mereka guna melindungi diri dari asap yang memenuhi gerbong.

Peristiwa kerusuhan, penjarahan, dan 'hujan' gas air mata ini terjadi saat ratusan ribu warga turun ke jalan di seluruh kawasan kota Prancis untuk memprotes kenaikan biaya hidup, upah yang rendah, serta pemangkasan layanan publik.

Aksi ini menyusul protes yang awalnya dipimpin oleh para pelajar dalam beberapa minggu terakhir karena masalah kekurangan guru, kondisi bangunan sekolah yang memburuk, dan pendanaan yang tidak memadai.

Namun tanpa disangka, dari aksi blokade sekolah oleh para siswa pada September lalu, kini telah berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut layanan publik yang lebih baik serta keringanan dari kenaikan harga.

Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan jumlah peserta aksi secara nasional mencapai 550.000 orang, dengan sekitar 110.000 orang di antaranya berada di Paris. Sementara itu, penyelenggara aksi demo tersebut menyebut angka nasional mencapai 800.000 orang.

Demonstrasi tersebut melibatkan berbagai kelompok, mulai dari mahasiswa, serikat pekerja, hingga pendukung gerakan 'Rompi Kuning' (Yellow Vest), dengan tuntutan yang mencakup pendanaan pendidikan yang lebih baik, kenaikan upah, serta peningkatan daya beli.

Bentrokan juga pecah di sejumlah kota lain di Prancis, di mana para pengunjuk rasa melakukan pembakaran dan merusak bangunan umum. Polisi melakukan ratusan penangkapan, sementara pihak berwenang mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk aksi ricuh para demonstran yang pecah di sejumlah wilayah. Melalui platform media sosial X, ia menegaskan tidak ada ruang untuk kekerasan.

"Mereka yang melakukan perusakan, menyerang kantor prefektur maupun tempat usaha, bahkan menjarah balai kota kita, akan dituntut dan dihukum," tambahnya.