Terobosan DJI datang Januari 2013 dengan peluncuran Phantom, drone yang mempermudah konsumen awam melakukan fotografi udara. Dibanderol USD 679, Phantom lebih terjangkau dibanding drone rakitan yang biayanya bisa mencapai lebih dari USD 1.000. Kesuksesanya mendorong pendapatan DJI tumbuh lima kali lipat.

Saat pesaing berusaha mengejar, DJI menyempurnakan Phantom dengan memperpanjang durasi penerbangan dari sekitar 10 menit pada model pertama menjadi 28 menit di versi-versi berikutnya. Perusahaan ini juga memperkenalkan kamera bawaan dan pengendali jarak jauh yang dilengkapi layar.

Tahun 2015, DJI menguasai sekitar 70% pasar drone konsumen. Mereka membangun bisnis internasional yang kuat, dengan sekitar 70% penjualannya berasal dari luar Asia.

Dekade berikutnya, DJI berekspansi melampaui produksi drone rekreasi ke sektor pertanian, inspeksi industri, dan pembuatan film, sembari memperkenalkan model-model ringkas yang membuat fotografi udara mudah diakses.

Ekspansi pesat DJI menjadikan Wang miliarder drone pertama di dunia. Tahun 2017, Wang yang saat itu 36 tahun, menjadi miliarder teknologi termuda Asia, menempati peringkat ke-76 dengan perkiraan kekayaan USD 3,2 miliar.

Namun, dominasi global DJI memicu tantangan regulasi, terutama di AS. Di 2022, DJI dimasukkan daftar perusahaan militer China oleh Departemen Pertahanan AS, label yang dibantah keras perusahaan. Terlepas dari tantangan ini, perusahaan terus mengembangkan produk baru dan memperluas pasarnya.