Menurutnya, partai politik membutuhkan kemampuan memobilisasi dukungan untuk membangun konsolidasi, tetapi juga memerlukan kapasitas tata kelola agar mampu beradaptasi dengan sistem pemerintahan.

"Sebetulnya dulu Herb juga tidak terlalu membuat demarkasi tegas bahwa yang namanya solidarity maker itu tetap begitu, yang namanya administrator tetap begitu. Mereka kadang-kadang bisa ada irisannya," ungkap Bima dalam keterangannya, Minggu (25/10/2026).

Ia menjelaskan kedua karakter tersebut dapat berkembang dalam diri seorang pemimpin. Seorang tokoh yang awalnya mengandalkan kemampuan mobilisasi massa dapat mengembangkan kapasitas administratif, begitu pula sebaliknya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan politik dituntut untuk mampu menjawab kebutuhan organisasi sekaligus tantangan tata kelola pemerintahan.