"Jadi bagaimana sense itu bisa ada, bahwa rakyat membutuhkan? Pernah nggak merasakan berdesakan, seperti digencet di kaleng sarden, seperti cendol, gitu ya. Kadang pergi, maka akan merasakan betapa dahaga warga atas urban mobility itu begitu mendesak," ujarnya.

Bima menilai urban mobility tidak bisa hanya dipandang sebagai penyediaan transportasi pada ujungnya saja. Melainkan mobilitas perkotaan harus menjadi bagian dari perencanaan kota secara menyeluruh.

"Kami mengapresiasi beberapa daerah, agak maju, untuk membangun integrasi tadi, dengan sistem subsidi. Tapi kami mendorong, agar semua kepala fokus pada urban mobility itu ini, tidak saja dalam konteks peninggian di ujung, tapi mulai dari perencanaan di awal, sehingga semua terintegrasi. Palembang adalah satu contoh, ada PR masalah integrasi di sana. LRT dibangun, tapi tidak sesuaikan dengan konsep data ruang secara keseluruhan, dan tidak terlalu integrasi," katanya.