NADIKABAR.COM — Bursa kripto Binance menghentikan layanan penarikan dana setelah diretas senilai US$ 6,3 miliar atau sekitar Rp 114,42 triliun (kurs Rp 18.162). Meski menjadi salah satu peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah, sejumlah eksekutif industri kripto meyakini Binance memiliki sumber daya yang cukup untuk menanggung kerugian tersebut
Dikutip dari Reuters, Sabtu (31/10/2026), insiden ini dinilai tidak akan menimbulkan dampak keuangan yang lebih luas. Nilai peretasan tersebut mencapai US$ 6,3 miliar, sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 54,48 triliun aset kripto disebut telah dibekukan.
Salah satu CEO Binance, Richard Teng, mengungkapkan melalui platform X bahwa pembobolan kemungkinan bermula dari laptop seorang teknisi perangkat lunak yang telah disusupi. Kondisi itu memungkinkan peretas mengakses sistem yang digunakan untuk memproses penarikan dana.
Proses investigasi sempat terkendala oleh perangkat lunak yang dirancang untuk menghapus jejak serangan. Meski begitu, perusahaan kemudian menemukan adanya celah keamanan tambahan.
Insiden yang terjadi pada Binance turut mendorong bursa kripto global memperkuat sistem keamanan untuk mengantisipasi serangan serupa. Coinbase (COIN.O), misalnya, menyatakan telah menyesuaikan sistem penyimpanan kunci kripto secara offline sebagai langkah kehati-hatian. Sementara itu, Kraken mengaku terus memantau berbagai insiden keamanan di industri untuk mengambil pelajaran dan memperkuat sistemnya.
"Tim khusus di Kraken terus memantau potensi kerentanan setiap harinya," ujar juru bicara Kraken.
Kepala divisi kripto Franklin Templeton, Chris Perkins, menilai persoalan keamanan harus segera ditangani agar industri kripto dapat berkembang secara optimal.
"Agar kripto dapat mencapai potensi maksimalnya, masalah keamanan harus segera ditangani," ujarnya.