Sebuah model yang diterbitkan pada tahun 2024, yang diakui oleh para penulisnya sebagai model yang terlalu sederhana, menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu delapan tahun bagi Matahari untuk mengisi daya sebuah superflare. Waktu yang lama untuk mengakumulasi energi, tetapi belum tentu mustahil.
"Bahkan dari perhitungan sederhana ini, saya memperkirakan (superflare) sebagai sebuah kemungkinan," kata Profesor Kazunari Shibata dari Universitas Kyoto, dikutip dari IFLScience.
"Dan tentu saja, ini adalah tantangan besar yang saya berikan kepada para ahli teori Dinamo Matahari. Dan saya mendorong banyak ahli teori untuk benar-benar mempelajari apakah ini benar atau tidak," imbuhnya.
Beberapa bulan kemudian, sebuah tim dari Max Planck Institute untuk Solar System Research (MPS) meneliti 56.450 bintang mirip Matahari dan menemukan bukti yang mendukung skenario bahwa superflare mungkin terjadi dari bintang mirip Matahari sekitar sekali setiap abad.
Kini tim MPS yang sama telah mengalihkan perhatian mereka langsung ke Matahari kita sendiri dan mengamati bintik Matahari terbesar sejak peristiwa Carrington. Peristiwa itu terjadi pada 1947, dan mereka memperkirakan bintik Matahari tersebut memiliki kapasitas untuk menghasilkan suar yang akan diklasifikasikan sebagai superflare saat ini.