NADIKABAR.COM — PT Bio Farma (Persero) dan 23 Century Medical Group Sdn Bhd menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk menjajaki kerja sama terkait registrasi, komersialisasi, dan distribusi produk berbasis sel punca (stem cell) dan/atau sekretom (secretome) di Indonesia.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, dan Managing Director 23 Century Medical Group, Datok Seri Dr. David Mah, serta disaksikan oleh Staf Khusus Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Didi Apriadi, Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, dan CEO 23 Century Medical Group, Dr. Angelina Tiah di Jakarta pada 9 Oktober 2026.
Kolaborasi ini menjadi langkah awal bagi kedua perusahaan untuk mengeksplorasi peluang menghadirkan inovasi di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif ke Indonesia melalui jalur yang memenuhi ketentuan regulasi, standar mutu, serta kebutuhan sistem kesehatan nasional.
Kerja sama tersebut juga membuka peluang bagi Bio Farma dan 23 Century Medical Group untuk membangun pemahaman bersama mengenai kesiapan pasar, aspek regulasi, model komersialisasi, serta sistem distribusi yang diperlukan agar produk berbasis stem cell dan/atau secretome dapat dikembangkan secara bertanggung jawab di Indonesia.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan 23 Century Medical Group merupakan langkah strategis untuk memperluas kapabilitas perusahaan di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif, sekaligus mendukung transformasi Bio Farma di sektor life science.
“Bagi Bio Farma, pengembangan bidang ini merupakan langkah strategis yang sejalan dengan pengalaman panjang kami dalam pengembangan vaksin dan produk farmasi konvensional. Dari perspektif riset dan pengembangan, kami memandang kemitraan ini sebagai peluang untuk meningkatkan pengetahuan, serta membangun kapabilitas yang akan memperkuat ekosistem bioteknologi Indonesia.” Kata Shadiq.
Shadiq juga mengapresiasi dukungan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam mendorong investasi di sektor bioteknologi dan kesehatan, khususnya untuk memperkuat kapabilitas manufaktur dalam negeri melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional
Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Dicky Mahardhika Taryono, mengatakan bahwa pengembangan kompetensi tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian kesehatan Indonesia. Penguatan ekosistem yang lebih luas membutuhkan kesiapan riset, tenaga ahli, sistem mutu, industri, dan layanan kesehatan yang dikembangkan secara bertahap.
“Bagi Bio Farma, penjajakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kapabilitas nasional di bidang teknologi kesehatan yang lebih maju. Kami ingin memperkuat pemahaman mengenai ilmu pengetahuan, persyaratan regulasi, sistem mutu, dan kesiapan industri secara bertahap. Tujuan jangka panjangnya adalah mendukung akses terhadap inovasi kesehatan yang terbukti aman dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Dicky.
Penjajakan kerja sama dengan 23 Century Medical Group memberikan kesempatan bagi Bio Farma untuk memperdalam pemahaman terhadap ekosistem terapi seluler dan pengobatan regeneratif yang berkembang secara global.
Ke depan, pembentukan ekosistem yang kuat di bidang tersebut membutuhkan kesiapan yang lebih luas, termasuk riset dan pengembangan, regulasi, tenaga ahli, sistem mutu, teknologi produksi, fasilitas manufaktur, serta kesiapan layanan kesehatan.
CEO 23 Century Medical Group, Dr. Angelina Tiah Shy Yng, mengatakan bahwa perkembangan dunia medis semakin mengarah pada terapi yang tidak hanya berfokus pada pengelolaan gejala, tetapi juga pada upaya untuk memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan fungsi biologis.
“Masa depan dunia medis bergerak menuju terapi yang tidak hanya berfokus pada penanganan gejala, tetapi juga pada pemahaman tentang bagaimana kita dapat memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan fungsi biologis tubuh. Penjajakan dengan Bio Farma membuka peluang untuk memahami kebutuhan dan persyaratan di Indonesia terkait produk berbasis sel punca dan sekretom, serta memory-like natural killer cells. Kami berharap kerja sama ini menjadi langkah awal untuk mempelajari peluang pengembangan kapabilitas lokal dengan mengutamakan bukti ilmiah, mutu, keselamatan pasien, dan kepatuhan terhadap ketentuan regulasi,” ujar Dr. Angelina.
Terapi seluler dan pengobatan regeneratif merupakan bagian dari perkembangan kedokteran modern yang memanfaatkan sel dan produk biologis turunannya untuk mendukung upaya perbaikan, pemulihan, atau peningkatan fungsi biologis.
Kolaborasi dengan 23 Century Medical Group ini menjadi bagian dari arah transformasi Bio Farma untuk memperluas kompetensi dan portofolio di bidang life science dan kesehatan, sekaligus terus memperkuat kemampuan utamanya dalam vaksin dan produk biologis. Sebagai BUMN dalam ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma menjalankan transformasi yang menekankan penguatan tata kelola, riset, inovasi, dan daya saing. Pengembangan kapabilitas tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi negara dan masyarakat serta mendukung ketahanan kesehatan nasional.
Melalui pengembangan kapabilitas tersebut, Bio Farma menargetkan peran yang semakin besar dalam ekosistem life science nasional, sekaligus mendukung ketahanan dan kemandirian kesehatan Indonesia di tengah perkembangan teknologi kesehatan global yang semakin cepat.