Namun, perilaku dan perkembangan bayi orang utan piatu ini dapat berubah. Tanpa ibunya, mereka dilaporkan mengalami percepatan perkembangan kemandirian. Waktu bermainnya juga menjadi lebih pendek.

Selaras, peneliti Signe Preuschoft dan rekan-rekan dalam Animals (2021) mendapati anak orang utan piatu lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman sebaya, sehingga waktu istirahatnya dan waktu bermain sendiri jadi lebih pendek. Mereka juga lebih sering berada jauh dari petugas (manusia) pengganti ibunya.

Peneliti Maria Botero dalam Primate Orphans pada Encyclopedia of Animal Cognition and Behavior (2020) mengatakan, pengalaman mengasuh sebelumnya atau usia ibu angkat menjadi faktor penentu keberhasilkan adopsi bayi orang utan (Pongo pygmaeus) dalam penangkaran. Status kekerabatan juga memengaruhi keberhasilannya, seperti kerabat atau bukan, saudara kandung, atau nenek kandung.

Kendati kemampuan meniru dan kemampuan kognitif bayi orang utan piatu tampak tidak berkurang setelah bertahan hidup, Botero menyoroti dampak kehilangan ibu pada sejumlah spesies primata seperti babun, simpanse, dan bonobo. Beberapa di antaranya seperti penurunan pertumbuhan, berkembang biak, panjang umur, status sosial, kesehatan, kemampuan berinteraksi, dan munculnya kecemasan.

Orang utan merupakan mamalia yang butuh waktu panjang untuk tumbuh dewasa. Selama itu juga, bayi orang utan berhubungan dekat dengan ibunya, dikutip dari Orangutan Foundation International.

Bayi orang utan bergantung sepenuhnya pada ibunya untuk memperoleh makanan dan transportasi selama 2 tahun pertama hidupnya. Ia akan berpegangan pada perut, sisi, atau punggung induknya yang bergerak di tim redaksi pepohonan.