"Terus kemudian kita lihat Sasol misalnya di Afrika Selatan. Dulu dia kena politik apartheid, terus di-ban oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batubara, Sasol itu sampai sekarang sekitar kira-kira 300 ribu barel per hari. Jadi memang sudah ada kalau itu," jelas Tri.

Saat ditanya soal negara mana yang akan menjadi mitra dalam pengembangan rencana, Tri mengatakan pemerintah masih melakukan evaluasi. Menurutnya, hal yang menjadi pertimbangan utama bukan negara asal teknologi, melainkan teknologi yang akan digunakan.

"Nanti beberapa sedang dievaluasilah. Tentang negaranya kan enggak terlalu ini, yang penting teknologinya lah," kata Tri.

Sebelumnya, Prabowo menginginkan adanya pengembangan batu bara produksi bensin dari batu bara. Hal ini mengikuti jejak sukses implementasi program solar dengan campuran minyak kelapa sawit hingga 50% atau B50 dalam mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, pemerintah berencana untuk memproduksi bensin dengan bahan dasar batu bara.