Salah satu contoh paling ekstrem datang dari Amerika Serikat.
Roy C. Sullivan, seorang mantan penjaga taman nasional di Virginia, tercatat oleh Guinness World Records sebagai orang yang paling banyak selamat dari sambaran petir, yakni sebanyak tujuh kali.
Sambaran pertama terjadi pada 1942. Dalam berbagai kejadian berikutnya, Sullivan mengalami sejumlah cedera, seperti luka bakar, rambut terbakar, cedera pada kaki dan bahu, hingga luka bakar di bagian dada dan perut.
Sambaran ketujuh terjadi pada 1977 ketika ia sedang memancing. Sullivan kembali selamat.
Kisah tersebut tentu bukan berarti seseorang aman jika berada di luar saat badai petir. Justru sebaliknya, kasus Sullivan menunjukkan bahwa manusia memang dapat bertahan dari sambaran petir, tetapi risiko cedera dan kematian tetap nyata.
Apa yang harus dilakukan jika melihat korban?
Jika melihat seseorang baru saja tersambar petir, hal pertama yang harus diperhatikan adalah keselamatan penolong. Pastikan lokasi sudah cukup aman dari sambaran berikutnya.
Korban petir tidak menyimpan listrik di dalam tubuh sehingga aman untuk disentuh. Setelah berada di tempat aman, segera panggil bantuan medis dan periksa apakah korban bernapas.
Jika korban tidak bernapas atau tidak memiliki tanda-tanda sirkulasi, CPR atau RJP perlu segera dilakukan. Jika tersedia dan dapat digunakan, AED juga dapat membantu dalam kondisi henti jantung.
Jika korban masih bernapas, periksa kemungkinan luka bakar, cedera kepala, patah tulang, atau cedera lain akibat terjatuh.
Yang terpenting, jangan membuang waktu dengan memberikan pertolongan yang tidak terbukti secara medis.