Perubahan itu juga menggeser posisi fungsi legal di dalam perusahaan. Chief Executive Officer Hukumonline Arkka Dhiratara mengatakan para in-house counsel kini tidak cukup hanya menjadi penjaga gerbang kepatuhan. Mereka perlu menjadi mitra strategis yang membantu organisasi membaca risiko dan mengambil keputusan bisnis secara lebih terukur.

“Transformasi terbesar fungsi legal terjadi. Dari legal as a gatekeeper menjadi legal as a strategic partner,” kata Arkka.

Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya tuntutan terhadap profesional hukum perusahaan untuk memahami bisnis secara lebih utuh. Di tengah ketidakpastian, fungsi legal justru dituntut untuk membantu perusahaan menemukan ruang gerak, bukan sekadar menunjukkan batas.

Perubahan lanskap tersebut turut tercermin dalam Indonesian In-House Counsel Awards (IHCA) 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian IHCSA 2026. Penghargaan ini memberikan apresiasi atas inovasi, profesionalisme, dan dedikasi tim serta pimpinan hukum perusahaan yang berkontribusi terhadap kemajuan dan keberlanjutan bisnis organisasi.

Tahun ini, Hukumonline menyempurnakan metodologi IHCA dengan tiga prinsip utama, yaitu objectivity, integrity, dan excellence. Penilaian dilakukan menggunakan data primer dari survei terhadap entitas korporasi pelanggan Hukumonline dan mencakup tiga aspek utama, yakni Legal Team Innovation, Individual Leadership, dan Preventive Legal Initiatives.

Anggota Dewan Juri IHCA 2026, Erry Riyana Hardjapamekas, mengatakan pendekatan tersebut penting karena keberhasilan fungsi legal sering kali justru tidak terlihat. “Pekerjaan yang hasil terbaiknya justru adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi. Tidak terjadi sengketa, tidak terjadi pelanggaran, tidak terjadi kerugian,” ujar Erry.

Chief Media & Engagement Officer Hukumonline Amrie Hakim mengungkapkan, meningkatnya partisipasi dalam penghargaan menunjukkan semakin luasnya peran in-house counsel.