NADIKABAR.COM — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN meminta masyarakat agar tidak takut ke psikolog merespons kasus infertilitas di Indonesia yang saat ini mencapai angka 10 hingga 15 persen.

Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga/BKKBN Wahidin dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat mengemukakan, angka tersebut setara dengan 4 hingga 6 juta dari total 46 juta pasangan usia subur, merujuk dari data Kementerian Kesehatan tahun 2026.

"Kami ingin memastikan bahwa seluruh keluarga tersebut (pasangan infertilitas) ke depan bisa terfasilitasi dan terlayani dengan baik, mulai dari kemudahan memperoleh informasi hingga pendampingan medis dan psikologis," ujar dia.

Ia menegaskan, seiring dengan transformasi lembaga, Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya fokus pada pengendalian laju pertumbuhan penduduk, tetapi juga membantu keluarga yang membutuhkan keturunan. Kemendukbangga/BKKBN juga menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu infertilitas atau gangguan kesuburan.

"Dalam upaya membangun ketahanan keluarga, Kemendukbangga/BKKBN mendorong pentingnya pelayanan promotif, preventif, hingga pendampingan psikososial agar pasangan yang mengalami infertilitas mendapatkan penanganan yang presisi dan empati," ucap Wahidin.

Sementara itu, Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya Kemendukbangga/BKKBN Lilik Aryani Falupi mengemukakan, infertilitas bukan sekadar beban medis satu pihak. Kesenjangan informasi tentang fertilitas sering membuat masyarakat terlambat melakukan konsultasi medis. Oleh karena itu, Kemendukbangga/BKKBN mengoptimalkan peran tenaga lini lapangan dan penyuluh KB di daerah guna meyakinkan masyarakat agar tidak ragu berkonsultasi ke dokter spesialis maupun psikolog.

Dari sisi medis, peluang kehamilan alami pada pasangan subur (fekundabilitas) sebenarnya hanya sekitar 15 hingga 25 persen per siklus. Edukasi mengenai pola hubungan suami istri yang teratur tanpa perlu terpaku pada kalkulasi masa subur, pengelolaan gaya hidup sehat, hingga pemahaman faktor penyebab infertilitas menjadi kunci penting sebelum menentukan tindakan lanjutan.

Di sisi lain, dari perspektif psikologis, infertilitas membawa dampak mendalam berupa duka tak terlihat (disenfranchised grief), sehingga pasangan perlu menjaga komunikasi terbuka dan membangun kesadaran emosional (emotional awareness).

Kemendukbangga/BKKBN berharap pemahaman masyarakat semakin terbuka sehingga stigmatisasi terhadap pasangan infertilitas dapat terkikis. Kemendukbangga/BKKBN berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi antara penyuluh lapangan, tenaga kesehatan, dan para ahli demi mendampingi keluarga Indonesia mewujudkan impian mendapatkan buah hati secara sehat.