Untuk memastikan penduduk menua dengan sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat harus dilakukan dalam perspektif siklus hidup, karena kehidupan pada usia lanjut dipengaruhi oleh investasi kesehatan, gizi, pendidikan, lingkungan dan kondisi sosial ekonomi sejak usia dini dan usia produktif.

"Persoalan stunting juga menjadi sorotan dalam pertemuan ini. Stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Saat ini angka prevalensi stunting masih berada di angka 19,8 persen, sehingga penanganannya harus dilakukan secara keroyokan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan," tegas Wihaji.

Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto terus menekankan pentingnya percepatan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas nasional.

Selanjutnya, KB Pascapersalinan (KBPP) menjadi isu selanjutnya yang menjadi perhatian Kemendukbangga/BKKBN karena bermanfaat untuk merencanakan kehamilan, mengatur jarak kelahiran, mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, serta menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB).

Wihaji menjelaskan bahwa Kemendukbangga/BKKBN telah membuat Permendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 2 Tahun 2025 tentang KBPP guna memperluas akses serta meningkatkan kualitas pelayanan KB di berbagai fasilitas kesehatan demi menekan AKI dan AKB.

"(Masyarakat) Yang belum beruntung itu rata-rata kebobolan (hamil), dan ini tentu (melahirkan di) Puskesmas dan bidan, Pak Menkes. Kita tentu nanti akan kerja sama banyak sekali di lapangan, khususnya Puskesmas dan bidan, di situlah tempat melahirkan generasi ke depan yang kita harapannya kedepan lebih baik," tambah Wihaji.