NADIKABAR.COM β Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkuat pengembangan industri baterai kendaraan listrik (EV), Battery Energy Storage System (BESS) dan manufaktur bernilai tambah tinggi sebagai tahap lanjutan hilirisasi mineral strategis di Indonesia.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Heldy Satrya Putera menyampaikan pengembangan baterai EV dan BESS masuk dalam tahap kedua pengembangan industri hilir setelah pembangunan smelter dan fasilitas pemurnian.
Heldy dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Rabu menyampaikan pihaknya telah menyusun peta jalan pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis dengan estimasi kebutuhan investasi mencapai 618,1 miliar dolar AS hingga 2040.
Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini dilakukan melalui tiga tahapan strategis, dengan fondasi pengolahan mineral yang telah dibangun melalui smelter dan fasilitas pemurnian.
βSaat ini, prioritas kita memasuki tahap dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,β ujar dia.
Disampaikan dia pula, realisasi investasi hilirisasi telah mencapai skala yang signifikan. Pada semester I 2026, investasi hilirisasi tercatat Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Nilai tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total realisasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp87,3 triliun atau 29,1 persen.
Capaian tersebut menunjukkan perkembangan industri hilir Indonesia sekaligus membuka peluang untuk memperkuat posisi nasional dalam rantai nilai mineral kritis global.
Tahap berikutnya diarahkan pada penguatan pasar yang kompetitif, peningkatan investasi jangka panjang, serta kemampuan industri nasional menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pembeli global.
Disampaikan dia, pihaknya bersama Fastmarkets menyelenggarakan International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS) yang berlangsung pada 27β30 September 2026 di Bali.
Kegiatan itu mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, perusahaan pengolahan, produsen material baterai, lembaga keuangan, hingga pelaku perdagangan komoditas dari berbagai negara.
Lebih lanjut, pada sektor pengolahan nikel, pembahasan mencakup keekonomian High Pressure Acid Leach (HPAL), daya saing asam sulfat, serta pilihan teknologi pengolahan.
Sementara itu, pengembangan prekursor dan katoda menghadapi tantangan yang lebih kompleks, tidak hanya terkait ketersediaan bahan baku, tetapi juga teknologi, kualitas produk, kepastian pembeli dan keekonomian proyek.
Oleh karena itu, pembahasan material baterai dalam ICMMS 2026 turut menyoroti produk hilir yang memiliki pasar serta mampu bersaing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.