"Karena partikel abu dapat mengganggu kinerja mesin pesawat, menyebabkan abrasi pada kaca kokpit, serta mempengaruhi sejumlah instrumen dan sensor pesawat," jelasnya.

Oleh karena itu, perkembangan arah dan ketinggian sebaran abu vulkanik terus kami pantau secara intensif sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan navigasi udara.

Fuad sebut, jika kondisi belum kembali normal, penerbangan bisa dipindahkan ke Kertajati.

"Kertajati juga menjadi salah satu bandara alternatif yang disiapkan dalam menghadapi gangguan operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik," ujarnya.