Stasiun Meteorologi Kertajati, menurut Fuad tetap melaksanakan pengamatan 24 jam dan berkoordinasi dengan beberapa stakeholder terkait untuk melakukan pemantauan secara berkelanjutan, mengingat dinamika arah angin dan sebaran abu vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu.

"Berdasarkan informasi citra satelit terakhir bahwasanya pada pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebaran pertama, dari permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki, teramati bergerak ke arah timur laut hingga selatan, yaitu mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya," tuturnya.

"Sementara itu, klaster sebaran kedua, dari permukaan hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki, teramati sebaran abu vulkanik ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatra Barat, Selat Sunda, serta Samudra Hindia di sebelah barat Sumatra dan Lampung," tambahnya.

BMKG menegaskan bahwa keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Adapun terkait dengan status operasional bandar udara dapat berubah sesuai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, kondisi sebaran abu vulkanik, hasil pengamatan lapangan, dan keputusan otoritas penerbangan yang berwenang.