NADIKABAR.COM β€” Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer yang dipengaruhi Siklus Walker menjadi salah satu faktor penyebab kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sulit terurai.

β€œKetika terjadi updraft atau udara naik, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi akan naik ke atas sehingga terbentuk awan. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi daya dorong atmosfer ke bawah. Akibatnya, asap seperti terkurung di permukaan,” kata Kepala BMKG Kotim melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan, Mulyono Leo Nardo di Sampit, Kamis.

Ia menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini membuat proses pengangkatan uap air ke lapisan atas tidak berlangsung optimal. Hal ini berkaitan dengan Siklus Walker yang merupakan pola sirkulasi atmosfer di wilayah tropis.

Perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dapat mempengaruhi pola sirkulasi tersebut sehingga Indonesia pada kondisi tertentu lebih banyak mengalami gerakan udara turun. Keadaan ini juga berkaitan dengan rendahnya labilitas atmosfer yang menghambat pertumbuhan awan dan peluang terjadinya hujan.

Gerakan udara turun atau downdraft menyebabkan pembentukan awan hujan menjadi kurang signifikan. Dalam kondisi normal, uap air yang mengalami kondensasi akan terdorong naik, membentuk awan dan selanjutnya berpotensi menghasilkan hujan.