β€œSekarang kondensasi tidak bisa naik karena uap airnya tidak cukup dan labilitas atmosfer juga rendah. Gerakan udara yang lebih dominan dari atas ke bawah justru menekan pembentukan awan,” ujar Mulyono.

Kondisi atmosfer tersebut membuat asap hasil karhutla bertahan lebih lama di permukaan. Situasi semakin sulit apabila kecepatan angin relatif rendah karena asap tidak segera terbawa keluar dari wilayah terdampak.

β€œKalau anginnya tidak terlalu kencang, asap tidak bisa terbawa ke mana-mana. Akhirnya berkumpul dan terkurung di wilayah tersebut. Kalau ada angin yang lebih kencang, biasanya asap bisa terbawa,” katanya.

Selain menyebabkan asap bertahan lebih lama, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap jarak pandang masyarakat. Penurunan jarak pandang menjadi lebih sulit diprediksi karena sumber asap yang mempengaruhi suatu wilayah tidak selalu berasal dari lokasi setempat.

Berdasarkan pengamatan historis BMKG Kotim, tingkat kepekatan kabut asap cenderung meningkat pada pagi hingga subuh. Kondisi biasanya mulai membaik sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah hari.