BMKG memprediksi musim hujan mulai memasuki wilayah Nusa Tenggara Barat pada Desember 2026. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Maret 2027 dengan cakupan mencapai 14.168 kilometer persegi atau setara 78 persen wilayah NTB.
Nuga menuturkan musim hujan juga terjadi lebih basah karena jumlah air yang seharusnya terbagi dalam enam bulan justru diperkirakan turun dalam rentang waktu tiga hingga empat bulan.
Ia menegaskan perencanaan pengelolaan air dan kegiatan pertanian menjadi hal yang sangat penting dalam menghadapi musim hujan.
"Untuk sumber daya air dan infrastruktur, kita perlu mengantisipasi pengelolaan air serta kapasitas drainase. Sementara sektor kebencanaan dan lingkungan, kita sama-sama perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan, banjir dan longsor," ucap Nuga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sejak dini dalam menghadapi musim hujan yang diprediksi tiba sekitar dua bulan lagi.