NADIKABAR.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan sebanyak 15 pesawat dikerahkan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan guna membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Sekarang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan secara masif. Ini mungkin salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.

Ia melanjutkan "Ada sembilan pesawat yang aktif di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, kemudian enam pesawat di Sumatera Selatan. Harapannya, minggu ini menjadi periode basah sehingga ada potensi hujan."

Dia mengatakan operasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang terjadinya hujan untuk membantu memadamkan kebakaran, terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah yang masih mengalami tingkat kebakaran cukup tinggi.

Faisal menyebut potensi pertumbuhan awan di Kalimantan Tengah cukup tinggi selama lima hari sejak Senin. Sementara itu, potensi pertumbuhan awan di Sumatera Selatan diperkirakan meningkat mulai Selasa hingga lima hari berikutnya.

"Kami akan bekerja keras untuk memadamkan semaksimal mungkin kebakaran yang terjadi, khususnya di dua provinsi yang saat ini masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi, yaitu Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah," ujarnya.

Dia menjelaskan pelaksanaan OMC dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono dengan melibatkan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta TNI.

Dalam operasi tersebut, kata dia, BMKG menggunakan kombinasi bahan dry ice dan natrium klorida (NaCl) atau garam untuk mendukung pembentukan hujan. Operasi itu juga didukung pesawat Hercules, CN-295, dan pesawat lain milik TNI.

BMKG turut menyiapkan pemetaan mingguan hingga akhir November untuk mengidentifikasi wilayah yang berisiko sangat tinggi dan tinggi mengalami kebakaran. Pemetaan tersebut digunakan untuk membantu menentukan wilayah prioritas dalam upaya antisipasi karhutla.

"Datanya sudah kami siapkan per minggu hingga akhir November. Kami juga sudah memetakan kecamatan-kecamatan yang berpotensi mengalami kebakaran dengan tingkat risiko sangat tinggi dan tinggi," ujarnya.