Dalam bahasa sederhana, Marjuki menjelaskan, asap tersebut masih melintas di lapisan atas atmosfer. Dengan demikian, keberadaan asap di atas Jakarta belum tentu berarti masyarakat sudah menghirup asap karhutla tersebut.
"Karena itu, keberadaan asap di atmosfer belum tentu menaikkan polusi udara di permukaan," ujarnya.
Marjuki menjelaskan lapisan asap di atmosfer dapat membuat langit terlihat lebih keruh atau kelabu. Meski demikian, perubahan penampakan langit tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk menilai kualitas udara yang dihirup masyarakat.
Menurutnya, kondisi asap di lapisan atas atmosfer dapat berubah mengikuti dinamika angin dan kondisi atmosfer. Apabila kondisi tersebut berubah, asap berpotensi turun hingga ke permukaan.