Untuk pola angin secara umum, kata dia, bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar 2–20 knot, yang membawa sebaran asap dari luar daerah seperti Papua Selatan, Maluku, dan sekitarnya, masuk ke wilayah Sultra bercampur dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal.

"Berdasarkan data satelit sensor VIIRS dan MODIS per 18 Oktober 2026, terdapat 189 titik panas (hotspot) di wilayah Sultra, dimana titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kota Baubau, Kabupaten Bombana, Buton, Konawe Utara, dan Muna," ujarnya.

Heri mengungkapkan indeks kualitas udara berdasarkan konsentrasi partisipatif PM2,5 di wilayah Sultra secara umum masih berada pada kategori baik hingga sedang, dan kondisi ini diprakirakan berulang hingga beberapa hari ke depan.