NADIKABAR.COM — Pabrikan otomotif asal Jerman, BMW berencana untuk memangkas sekitar 8.000 tenaga kerja secara global hingga akhir 2027 di tengah tekanan bisnis, termasuk penurunan penjualan perusahaan di China.
Auto Home pada Kamis (23/10), melaporkan bahwa perusahaan menawarkan paket pesangon yang dilaporkan mencapai 650.000 euro atau sekitar Rp13.1 miliar bagi sejumlah pekerja.
Paket kompensasi tersebut disebut jauh melampaui standar industri otomotif. Sebagai perbandingan, Volkswagen pernah menawarkan pesangon hingga 405.000 euro kepada sejumlah karyawan pada 2024, sedangkan Mercedes-Benz menyediakan kompensasi maksimum sekitar 500.000 euro.
Besaran pesangon BMW dapat berbeda sesuai ketentuan yang berlaku bagi masing-masing karyawan. Penerima kompensasi juga memiliki pilihan untuk mengambil pembayaran sekaligus, menerima dana secara bertahap, mengalihkan sebagian dana ke program pensiun atau asuransi langsung, maupun menggabungkan beberapa metode tersebut.
Karyawan berusia 55 tahun ke atas, berpeluang memperoleh perlakuan khusus dalam sejumlah manfaat tambahan.
Mereka, misalnya, dapat tetap memperoleh fasilitas diskon karyawan untuk pembelian mobil baru maupun bekas melalui skema yang disiapkan perusahaan.
Besarnya paket kompensasi memicu lonjakan akses ke portal sumber daya manusia internal BMW. Sekitar 40.000 karyawan dilaporkan mengakses sistem tersebut untuk memeriksa nilai pesangon masing-masing hingga menyebabkan gangguan akibat tingginya lalu lintas pengguna.
BMW kemudian memperbaiki sistem pada hari berikutnya. Namun, meningkatnya jumlah permohonan membuat perusahaan memutuskan menangguhkan sementara penerimaan permohonan baru agar pengajuan yang telah masuk dapat diproses terlebih dahulu.
Di balik tawaran pesangon tersebut, BMW berupaya menekan biaya tenaga kerja dalam jangka panjang.
Perusahaan memperkirakan pengurangan 8.000 pekerjaan dapat menghasilkan penghematan sekitar 1 miliar euro per tahun mulai 2028.
Langkah efisiensi itu berlangsung ketika BMW menghadapi tekanan di pasar China. Penjualan perusahaan di negara tersebut dilaporkan merosot hampir 25 persen secara tahunan pada kuartal III. Pertumbuhan di Eropa dan Amerika belum mampu sepenuhnya mengimbangi penurunan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perubahan permintaan pasar dan tekanan biaya mendorong produsen otomotif global menata ulang struktur operasionalnya, termasuk melalui pengurangan tenaga kerja.