Rasio total pencadangan terhadap kredit tercatat 3,8 persen, dengan rasio cakupan pencadangan kredit bermasalah sebesar 193,3 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 19,2 persen.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.

Dari sisi digital, pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, naik 58 persen secara tahunan, dengan transaksi senilai Rp1.774 triliun. Sementara itu, nilai transaksi BNIdirect mencapai Rp9.324 triliun, tumbuh 16 persen.

Pada Agustus 2026, PPOP perusahaan semester I mencapai Rp18,5 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun dan penyaluran kredit Rp968,5 triliun.

Memasuki kuartal IV 2026, perseroan menyatakan akan melanjutkan penguatan pendanaan, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko, serta transformasi digital untuk mendukung pembiayaan sektor produktif.