NADIKABAR.COM β€” PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) sebesar Rp27,5 triliun sepanjang Januari–September 2026, tumbuh 11,6 persen secara tahunan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyebut capaian tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk periode sembilan bulan pertama, ditopang peningkatan kredit dan pendapatan.

"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko," ujar Putrama dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Laba bersih perseroan meningkat 6,6 persen menjadi Rp16,1 triliun. Pendapatan bunga bersih tumbuh 13,6 persen menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi naik 8,3 persen menjadi Rp13,9 triliun.

Penyaluran kredit tumbuh 22,2 persen menjadi Rp992,5 triliun pada September 2026, melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 13,26 persen menurut Bank Indonesia (BI).

Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan ekspansi kredit dilakukan secara selektif melalui analisis kelayakan debitur, dengan pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin menjadi 10,6 persen.

"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas," tutur Paolo.

Dana murah atau current account savings account (CASA) meningkat 19,6 persen menjadi Rp733,7 triliun, didukung pertumbuhan giro 25,9 persen dan tabungan 11,6 persen.

Di tengah ekspansi tersebut, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) turun 30 basis poin menjadi 3,5 persen. Namun, biaya dana turun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen.

Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada menyatakan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto turun dari 2,0 persen menjadi 1,9 persen, sedangkan rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR) membaik dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen.

Rasio total pencadangan terhadap kredit tercatat 3,8 persen, dengan rasio cakupan pencadangan kredit bermasalah sebesar 193,3 persen dan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 19,2 persen.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.

Dari sisi digital, pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, naik 58 persen secara tahunan, dengan transaksi senilai Rp1.774 triliun. Sementara itu, nilai transaksi BNIdirect mencapai Rp9.324 triliun, tumbuh 16 persen.

Pada Agustus 2026, PPOP perusahaan semester I mencapai Rp18,5 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun dan penyaluran kredit Rp968,5 triliun.

Memasuki kuartal IV 2026, perseroan menyatakan akan melanjutkan penguatan pendanaan, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko, serta transformasi digital untuk mendukung pembiayaan sektor produktif.