NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong penerapan model kesiapsiagaan bencana berjenjang berbasis individu dan keluarga selayaknya sistem penanggulangan bencana di Jepang untuk diterapkan di Kabupaten Karangasem, Bali.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, menyampaikan bahwa ketangguhan sebuah wilayah menghadapi ancaman bencana seperti kekeringan, kebakaran lahan, hingga banjir berulang sangat ditentukan oleh kapasitas unit terkecil di masyarakat.
"Kesiapsiagaan dimulai dari unit terkecil, yaitu individu dan keluarga, kemudian lingkungan RT/RW hingga tingkat desa dan kelurahan. Masyarakat adalah bagian penting dari sistem penanggulangan bencana," kata dia.
Abdul menjelaskan, belajar dari praktik terbaik di Jepang, penguatan kapasitas warga dilaksanakan secara terstruktur melalui program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA) Tahap I yang menyasar lima desa/kelurahan di Karangasem pada 28 September - 10 Oktober 2026.
Lima kawasan tersebut meliputi Desa Bugbug, Desa Pertima, Kelurahan Subagan, Desa Bungaya, dan Desa Bungaya Kangin yang menghadapi potensi risiko geologi maupun hidrometeorologi.
Melalui fasilitasi DESTANA, warga dibina membentuk Kelompok Keluarga Tangguh Bencana (KATANA), menyusun Sistem Peringatan Dini (SPD) inklusif, serta mendirikan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) tingkat lokal.
Ia juga menekankan bahwa seluruh peta jalur evakuasi partisipatif yang disusun warga tidak boleh sekadar menjadi dokumen formalitas, melainkan harus diuji coba melalui latihan simulasi bencana secara rutin.
Pelatihan ini penting menyusul hasil Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Karangasem Tahun 2025-2029, kawasan tersebut memiliki potensi risiko tinggi gempa bumi, erupsi Gunung Agung, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga kekeringan.
"Jangan berhenti pada membuat peta partisipatif. Peta harus ditindaklanjuti dengan uji coba jalur evakuasi dan disosialisasikan, sehingga setiap warga memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana," ujar Abdul Muhari.