Ia menjelaskan bahwa pada lahan gambut api bisa bertahan di bawah permukaan, sehingga petugas harus melakukan pendinginan dan pemantauan lebih lanjut. Meski demikian, Suharyanto menegaskan petugas terus mengoptimalkan penanganan.

"Di beberapa lokasi akses darat juga sulit, sehingga membutuhkan dukungan water bombing. Ditambah kondisi panas, kering dan angin yang dapat memunculkan kembali fire spot. Jadi prosesnya memang tidak selalu sekali padam langsung selesai," jelasnya.

Lebih lanjut, BNPB juga melaporkan rehabilitasi pascabencana di Aceh dan Sumatera. Progress transfer bantuan untuk rumah rusak sedang dan ringan di tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 6 September 2026 mencapai Rp 703.017.000.000.

Untuk pembangunan hunian tetap (huntap), dari 27.809 unit usulan, sebanyak 14.897 unit telah direviu dan siap dibangun. Total huntap yang sudah dalam proses pembangunan mencapai 1.055 unit, dengan rincian 841 unit telah selesai dan 214 unit sedang dalam pengerjaan.

"Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proses verifikasi dan pencairan agar masyarakat segera dapat menyelesaikan perbaikan rumahnya," kata Suharyanto.

"Kami targetkan seluruh huntap yang sudah direviu dapat segera dibangun. Koordinasi dengan Kementerian PUPR dan pemerintah daerah terus kami perkuat," imbuhnya.

Suharyanto optimistis seluruh bencana dapat ditangani secara bertahap. Koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah terus diperkuat, sementara kesiapsiagaan dan mitigasi bencana akan menjadi fokus utama ke depan sesuai arahan Presiden.