NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas, dengan memusatkan upaya pada titik api aktif, lahan gambut, kebakaran bawah permukaan, serta wilayah yang berpotensi mengalami perluasan api.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan operasi terpadu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, termasuk keterbatasan akses dan sumber air yang menjadi kendala pemadaman di sejumlah lokasi.

"Operasi terpadu antara operasi darat maupun operasi udara, baik TMC (teknologi modifikasi cuaca), terus dioptimalkan dengan prioritas untuk titik-titik api yang masih aktif, lahan gambut, api di bawah permukaan, wilayah dengan potensi penyebaran tinggi, serta bandara dan permukiman," kata Berton secara virtual dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis.

Untuk mendukung upaya tersebut, BNPB mengerahkan 58.918 personel dalam operasi darat yang dibekali peralatan pendukung, antara lain pompa pemadam, pompa apung, GPS, dan pesawat nirawak atau drone untuk membantu pelaksanaan penanganan karhutla.

Pada operasi udara, sebanyak 54 unit pesawat dan helikopter dikerahkan, terdiri atas 16 unit untuk patroli dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) serta 38 unit untuk water bombing atau pengeboman air. Dari armada water bombing tersebut, delapan unit berasal dari Mabes TNI.

BNPB juga menyiapkan satu unit water bombing dari Sumatera Selatan untuk mendukung penanganan kebakaran di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Sementara itu, tiga unit lainnya ditempatkan di luar Sumatera dan Kalimantan, yakni dua unit di Papua dan satu unit di Jawa Timur.

Selain pemadaman langsung, BNPB mengoptimalkan TMC untuk mendorong hujan di wilayah terdampak. Hujan telah turun di sejumlah lokasi, antara lain Ketapang, Kayong Utara, Kecamatan Simpang Hilir, dan Kota Pontianak di Kalimantan Barat; Pulang Pisau, Kapuas, dan Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah; Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan; serta Rokan Hilir dan Pekanbaru di Riau.

Namun, pelaksanaan TMC di Sumatera Selatan dan Jambi belum dapat dilakukan karena tidak terdapat pertumbuhan awan potensial untuk membentuk hujan. Sementara itu, operasi TMC di Riau telah berakhir pada 25 September 2026.

Berton mengatakan dukungan hujan alami diperlukan untuk membantu mengurangi jumlah titik api yang harus ditangani tim gabungan, terutama di wilayah yang memiliki kondisi lahan dan akses pemadaman yang menantang.

BNPB juga mengerahkan tiga helikopter Chinook bantuan pemerintah Jepang untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan. Misi ketiga helikopter tersebut telah selesai pada 29 September 2026.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Jepang yang sudah membantu penanganan karhutla secara khusus di Kalimantan," kata Berton.

Ia menegaskan penanganan karhutla terus dilakukan melalui sinergi operasi darat dan udara agar pemadaman dapat menjangkau titik api yang masih aktif sekaligus mengurangi risiko kebakaran meluas ke kawasan lain.