NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya penguatan kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan di lingkungan pendidikan sebagai langkah krusial dalam menekan risiko dampak bencana geologi, seperti gempa bumi, potensi megathrust, hingga letusan gunung api.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan bahwa penguatan kapasitas menyangkut pelatihan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan tidak boleh dianggap sebagai agenda sekilas, melainkan proses pembelajaran berkelanjutan sepanjang hidup.
"Aktivitas vulkanik maupun pergerakan lempeng tektonik merupakan dinamika alam yang tidak bisa dihentikan oleh manusia, sehingga fokus utama penanggulangan bencana terletak pada upaya pengurangan risiko bagi keselamatan," kata dia.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan dalam tiga tahun terakhir, tercatat sedikitnya 15 hingga 20 kejadian bencana terjadi setiap hari yang memerlukan dukungan penanganan lintas sektor dari pemerintah pusat hingga daerah.
Adapun jika diakumulasikan bersama penanganan mandiri oleh pemda, total kejadian bencana di Indonesia dapat mencapai 5.000 hingga 6.000 kejadian dalam setahun.
Menanggapi tingginya frekuensi bencana tersebut, dia menggarisbawahi tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang mencakup ketersediaan fasilitas sekolah tahan bencana, regulasi serta Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang jelas, dan integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kurikulum pembelajaran.
Tragedi gempa bumi Yogyakarta 2006 misalnya, yang memakan korban jiwa lebih dari 6.000 orang hanya dalam guncangan berdurasi 5,3 detik.
Dia menyebutkan bahwa singkatnya waktu guncangan tersebut membuktikan bahwa keselamatan masyarakat sangat bergantung pada ketahanan fisik struktur bangunan dan kecepatan simulasi evakuasi yang terlatih secara naluriah.
Dalam konteks pelatihan di sekolah inilah BNPB menekankan pentingnya membangun budaya simulasi evakuasi secara berkala tanpa kepanikan, khususnya bagi peserta didik di tingkat SD dan SMP.
Lingkungan sekolah di Kota Serang, Banten menjadi salah satu yang dinilai perlu mendapatkan pelatihan tersebut. Hal itu dikarenakan menurut Abdul, Banten masuk dalam daerah yang rentan terdampak gempa bumi zona megathrust segmen Selat Sunda dan paparan erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, para siswa diharapkan mampu membentuk memori jangka panjang sehingga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya," kata dia.