Merespons tantangan tersebut, BNPT menggandeng 13 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BNPT dan pimpinan 13 perguruan tinggi di DIY.

Dijelaskan bahwa kolaborasi diarahkan untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pendidikan, dialog, pengembangan berpikir kritis, sekaligus lingkungan yang mampu membangun ketahanan generasi muda dan kelompok rentan terhadap pengaruh ideologi kekerasan.

Ia menegaskan pencegahan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, di mana perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan generasi muda dan memiliki kapasitas pengetahuan untuk membaca perubahan sosial, termasuk perkembangan ancaman di ruang digital.

"Mari kita jaga Jogja, jangan sampai anak-anak kita terpapar. Generasi mereka aktif di ruang digital ini perlu kita jaga bersama melalui kolaborasi dan sumbang pikir para rektor agar langkah mitigasi ini berjalan efektif dan tidak sia-sia," ungkap Eddy.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Lilik Andi Aryanto menyambut baik kolaborasi BNPT dengan perguruan tinggi tersebut.

Menurutnya, kerja sama mempertemukan dua kekuatan penting, yaitu kapasitas negara dalam melindungi masyarakat dan kapasitas perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta memahami dinamika manusia.

"Kegiatan ini untuk meneguhkan komitmen bersama dalam penanggulangan terorisme. Hari ini wujud ikhtiar untuk mempertemukan dua kegiatan penting yakni kapasitas negara dalam melindungi masyarakat dan ilmu pengetahuan dalam memahami manusia," ucap Lilik.

Ia menambahkan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun cara masyarakat menyikapi perbedaan. Kampus menjadi ruang tempat pengetahuan diuji, perbedaan dipertemukan, dan argumentasi diperdebatkan secara sehat.