Internet dan media sosial, kata Ridwan, menjadi salah satu saluran penyebaran konten berbasis kekerasan. Kerentanan tersebut juga berkaitan dengan rendahnya literasi digital, paparan konflik sosial, serta perasaan terasing dari lingkungan sekitar.

"Paparan konflik sosial dan perasaan terasing dari komunitas, anak yang merasa tidak didengar, tidak diterima, atau kehilangan pegangan bisa menjadi sasaran empuk bagi pesan-pesan yang tanpa menawarkan rasa memiliki," sebutnya.

Menurut Ridwan, kondisi tersebut menjadi tantangan bersama, terutama bagi dunia pendidikan. Sebab, paparan ideologi kekerasan tidak selalu terjadi melalui keterlibatan langsung dengan jaringan terorisme, tetapi juga dapat berlangsung melalui konten digital yang mengandung kebencian, intoleransi, dan glorifikasi kekerasan.

"Ini merupakan tugas berat daripada Bapak Ibu guru sekalian. Pernah ada kejadian mungkin Bapak Ibu sekalian tahu, kejadian yang terjadi di SMA 7 di Jakarta, kemudian juga ada di Sumatera Barat, kemudian juga ada di Kalimantan Barat," ungkapnya.

Upaya pencegahan, lanjut Ridwan, tidak cukup hanya berfokus pada penindakan terhadap jaringan terorisme. Penguatan literasi digital, pendampingan anak, dan penciptaan lingkungan pendidikan yang inklusif juga menjadi bagian penting dari pencegahan.

"Bapak dan Ibu guru membentuk karakter, kemudian juga menanamkan nilai kebangsaan, dan menjadi teladan. Itulah mengapa kami dari BNPT ini memandang guru sekalian sebagai garda terdepan dalam menjaga generasi kita dari paham kekerasan," ucapnya.

Oleh karena itu, tambahnya, guru diharapkan mampu menjadi teladan dalam menyikapi perbedaan, menggunakan media sosial secara bijak, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Sebab peserta didik tidak hanya belajar dari materi di kelas, tetapi juga dari perilaku orang dewasa di sekitarnya.

"Marilah kita menjadi teladan. Artinya bahwa anak-anak lebih banyak meniru daripada mendengar, cara kita menyikapi perbedaan, cara kita bermedia sosial, dan cara kita menyaring informasi akan menjadi pelajaran yang paling membekas," kata Ridwan.

Selain itu, dia juga meminta agar guru menjadi pendengar yang baik. Guru perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa, seperti mulai menarik diri dari pergaulan, menunjukkan permusuhan terhadap teman, atau mengalami persoalan yang enggan mereka ceritakan.

"Banyak tanda awal kerentanan muncul dalam bentuk sederhana, yaitu anak yang menarik diri, mulai memusuhi temannya, atau menyimpan sesuatu yang tidak ia ceritakan. Guru yang dekat dengan dan dipercaya adalah benteng pertama yang paling efektif untuk menanggul hal tersebut terhadap anak-anak kita," ungkapnya

Ridwan juga mendorong guru tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga ikut memproduksi konten yang mengedepankan perdamaian, toleransi, dan kebinekaan.