"Marilah kita menjadi produsen pesan positif, bukan sekadar penerima informasi, konten yang menakutkan, tidak menakutkan. Tidak menghakimi dan tidak provokatif. Konten tersebut, lanjutnya, perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, tidak menghakimi, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa," urainya.
Dengan demikian, lanjutnya nilai-nilai positif dapat menjadi alternatif terhadap narasi kebencian dan provokasi yang beredar di media sosial.
"Mengajak dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan dunia siswa, nilai damai, toleransi, dan kebinekaan adalah bahan terbaik untuk narasi tandingan terhadap narasi-narasi kebencian yang disebarkan oleh kelompok-kelompok yang sengaja memang membuat anak-anak kita menjadi terpapar," ujarnya.
Sementara itu, anggota DPR RI Komisi XIII, Sugiat Santoso, mengapresiasi program literasi digital berbasis moderasi yang dijalankan BNPT, khususnya karena menyasar anak-anak melalui penguatan peran guru.
Menurut Sugiat, keterlibatan tenaga pendidik menjadi langkah strategis untuk memasukkan pemahaman mengenai bahaya ideologi kekerasan ke dalam proses pembelajaran. Ia menyebut para guru yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan dapat menyusun pendekatan pembelajaran yang relevan dengan tantangan di ruang digital.
"Kami mengapresiasi dan mendukung program yang dilaksanakan oleh BNPT terkait program literasi digital berbasis moderasi, khususnya yang menyasar anak-anak kita," kata Sugiat.
Sugiat juga menyoroti perilaku kekerasan di kalangan pelajar, termasuk fenomena geng motor yang kerap meresahkan masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat tidak hanya dari tindakan yang muncul di lapangan, tetapi juga dari pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk sejak dini.
Ia menilai paparan konten kekerasan, termasuk melalui permainan digital dan tontonan yang tidak sesuai usia, berpotensi membuat anak terbiasa menyaksikan tindakan agresif apabila tidak disertai pendampingan yang memadai.
"Kalau sekarang, ada sedikit sakit hati atau persoalan tertentu, sudah ada tindakan kekerasan. Kenapa mereka bisa seperti itu? Karena cara berpikirnya sudah dipengaruhi konten-konten yang membuat mereka terbiasa melihat kekerasan," ujarnya.
Sugiat mengingatkan bahwa tanggung jawab pencegahan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Selain keluarga, dunia pendidikan dan peran guru diperlukan untuk membangun cara berpikir yang sehat, mengajarkan penyelesaian konflik tanpa kekerasan, serta menanamkan sikap saling menghormati.
"Oleh karena itu, sekali lagi, peran selain orang tua ya, selain orang tua, peran dunia pendidikan untuk pencegah ini peran dunia pendidikan itu peran guru lah," tutupnya.