NADIKABAR.COM β€” Lima ribu rupiah, segelas cincau hijau, dan sedikit es. Pedagang keliling yang melintas itu memberi jeda menyenangkan dalam perjalanan saya dan istri menyusuri Bogor, Sabtu, 17 Oktober 2026. Saya angkat gelasnya, hirup aroma cincau hijau, meneguknya pelan, dan menyebut nama Sang Pencipta. Senyum bahagia nikmat, dengan rasa syukur. Saya lihat ke belakang, papan biru menunjukkan arah Kebun Raya dan Terminal Baranangsiang. Perjalanan masih menyisakan tujuan yang menggoda: Surken dan makanan-makanannya.

Hari itu, catatan perangkat jam pintar saya menunjukkan 16 ribu langkah dan perkiraan pembakaran 540 kalori. Kira-kira itu berarti jaraknya sekitar 11 kilometer. Hal yang pasti, sepanjang perjalanan kami kerap berhenti. Ada saja hal menarik kami memperlambat langkah, mengeluarkan kamera HP, lalu berhenti menyimaknya. Inilah enaknya treking. Mungkin saya sudah ratusan kali melewati jalan raya Kota Bogor yang sama dengan yang saya lalui sekarang. Bedanya, dulu naik kendaraan, tak ada ruang dan alasan untuk mencermati semua jalan yang dilalui.

Pukul 07.27 Wib. Kami baru menapaki langkah-langkah pertama dari depan Stasiun Bogor. Angkot hijau melintas, sepeda motor berderet, pedagang menempati tepi jalan. Bogor pagi itu memperlihatkan wajah kesehariannya, dengan orang-orang yang sudah bergerak menuju urusan masing-masing.

Di Amsterdam, Rijksmuseum menyimpan foto pendahulu stasiun ini, bertanggal sekitar 1880–1888. Judulnya Stationsgebouw te Buitenzorg, gedung stasiun di Buitenzorg. Rasanya menarik membayangkan betapa banyak orang telah keluar dari stasiun menuju kota yang sama, dengan pakaian, kendaraan, dan kepentingan berbeda. Hari ini, kami datang untuk berjalan kaki, treking kota.

Dari stasiun kami bergerak menyusuri jalan, melewati balai kota, kemudian menyeberang menuju kawasan Istana Bogor. Pilar putih dan serambi bangunan pemerintahan itu menyimpan riwayat panjang. Menurut catatan lembaga pelestarian cagar budaya, bangunannya didirikan pada 1868 sebagai societeit, perkumpulan sosial dengan keanggotaan terbatas. Pada 1971, gedung tersebut difungsikan sebagai kantor pemerintahan kota.

Membayangkan perubahan penghuninya membuat bangunan itu terasa berbeda. Dulu orang datang sebagai anggota perkumpulan, kini urusan pemerintahan berlangsung di dalamnya. Kami melanjutkan langkah. Di seberang jalan, pagar istana membatasi hamparan rumput dan pepohonan yang memberi ruang pandang lebih lapang dibandingkan deretan bangunan di belakang kami.

Rusa-rusa menjadi pemandangan berikutnya, kami pun hentikan langkah. Ada yang merumput, ada yang berteduh. Dari trotoar, pengunjung memperhatikannya melalui sela pagar. Rusa tutul atau Axis axis, berasal dari kawasan India–Nepal dan telah menghuni lingkungan istana sejak awal abad ke-19. Jumlahnya tercatat lebih dari 800 ekor dalam publikasi Sekretariat Negara pada November 2020.

Rupanya, pemandangan ini sudah lama membuat orang tertarik. Sebuah litografi terbitan 1842 dalam koleksi Rijksmuseum memperlihatkan kawanan rusa di depan istana. Karya itu diterbitkan melalui jaringan Amsterdam, Paris, dan London. Kini saya mengabadikannya dengan telepon pintar, lalu berdiri sejenak di tempat yang memungkinkan halaman istana terlihat lebih jelas.

Istana tersebut berawal dari keinginan Gustaaf Willem Baron van Imhoff mencari tempat beristirahat di luar Batavia. Ia memilih lokasinya pada 1744 dan memulai pembangunan pesanggrahan pada 1745. Namanya Buitenzorg, kurang lebih berarti tanpa kekhawatiran. Sketsa awalnya dibuat sendiri, dengan mengambil inspirasi dari Blenheim Palace di Inggris.

Bangunan yang tampak sekarang telah melewati perubahan dan pembangunan kembali, termasuk setelah gempa 1834. Lukisan tentang bencana itu juga tersimpan di Belanda. Ada manusia berlarian, istana rusak, dan rusa yang ikut menyelamatkan diri. Pelukisnya, Willem Troost, ternyata tidak pernah datang ke Indonesia; ia barangkali saja bekerja berdasarkan sketsa orang lain.