Setelah perjalanan berlanjut, segelas cincau hijau tadi terasa sebagai persinggahan yang pas. Daun cincau menyimpan kemampuan membentuk gel setelah diremas bersama air dan disaring. Penelitian IPB menunjukkan gel jenis tertentu, bahkan dapat terbentuk menggunakan air dingin. Rasa penasaran menimbulkan keingintahuan dan pengetahuan itu sendiri. Itu terbentuk hanya dari minuman sederhana yang dijajakan bapak separuh baya sambil berkeliling kota.
Kemudian tibalah kami di Suryakencana. Gerbang merah menyambut dengan atap bergaya Tionghoa. Lawang Suryakancana itu baru diresmikan pada Februari 2016. Kawasan di belakangnya jauh lebih tua. Pada masa kolonial, jalan ini dikenal sebagai Handelstraat, Jalan Perniagaan, tempat perdagangan dan kehidupan keluarga-keluarga pedagang berkembang di sekitar pasar.
Pengaturan kolonial ikut memusatkan permukiman Tionghoa pada kawasan tertentu. Kelenteng Hok Tek Bio, kini dikenal sebagai Vihara Dhanagun, sarana ibadah dan kegiatan sosial masyarakatnya. Tahun pendiriannya masih belum saya ketahui. Di lingkungan itu, warisan Tionghoa bertemu kehidupan setempat, diteruskan oleh orang-orang yang berdagang, beribadah, dan membesarkan keluarga dari generasi ke generasi.
Saya memperhatikan rumah lama dengan jendela berjalusi, berlubang ventilasi, pilar, dan lis berornamen. Lalu, dari gang-gang yang membelah jalan, pemandangan gunung kembali menarik mata. Di tengah pertokoan, ada kesempatan menengok bentang alam Bogor. Pegunungan di sekitar kota menjadi latar yang kadang muncul, kadang tertutup bangunan dan cuaca. Kami terus menyusuri jalan sambil memperhatikan sekeliling.
Godaan berikutnya jajanan kuliner: toge goreng. Tauge dan mi dengan siraman saus kental serta kecap. Lezatnya, ampun. Namanya mungkin bikin orang membayangkan penggorengan, padahal taugenya direbus. Ah, ketepu.. Ada rasa tauco dan oncom jadi bagian racikannya. Setelah belasan ribu jejak langkah ditapaki , perhatian kini tertuju pada santapan di meja.
Cungkring ikut melengkapi perburuan rasa hari itu. Surken memang membuat rencana berjalan kaki mudah bertambah dengan rencana makan. Di tempat seperti ini, kesenangan melihat bangunan lama dan kesibukan pedagang berjalan beriringan dengan selera. Kami datang membawa rasa ingin tahu, kemudian mendapati bahwa Bogor selalu menyediakan alasan untuk berhenti. Melewati jeda-jeda tertentu.
Perubahannya menjadi tujuan wisata kuliner berlangsung bertahap. Kesaksian pedagang menyebut perkembangan yang semakin terasa sejak 2000-an, meskipun sejumlah usaha makanan sudah hadir jauh sebelumnya. Pada 2020, pemerintah kota membuka Teras Surken untuk menata sebagian pedagang. Jalan yang dahulu didatangi orang untuk membeli kebutuhan rumah tangga, kini juga mengundang orang datang karena lapar.
Enam belas ribu langkah akhirnya membawa pulang lebih banyak cerita daripada perkiraan semula. Ada rusa yang telah muncul dalam gambar hampir dua abad lalu, bunga yang saya sangka anggrek, dan cincau lima ribu rupiah dari pedagang keliling. Bogor terasa lebih dekat setelah ditelusuri dengan kaki. Selebihnya, biarlah lidah menyimpan kenangan Surken. Batin saya dan istri, ini treking layak diulang.
*) Dr. Ramadhan Pohan, MIS, Pengajar, Wartawan, Mantan Pimpinan Komisi I DPR RI