Riwayat itu membuat saya melihat halaman istana dengan bayangan tambahan. Di tempat yang kini tampak tenang, yang dulu pernah terjadi kepanikan. Sesudah kemerdekaan, bangunan tersebut digunakan Republik untuk kegiatan kepresidenan. Soekarno pernah tinggal di kompleks ini; berpuluh tahun kemudian, Jokowi bersama keluarganya menempati Paviliun Dyah Bayurini sejak Mei 2015.

Kompleks istananya menempati lahan sekitar 28,86 hektare, dengan luas bangunan sekitar 14.892 meter persegi. Angka itu membantu membayangkan luas lingkungan yang kami pandangi dari luar pagar. Di balik pepohonan dan halaman rumputnya, kegiatan kerja serta penerimaan tamu negara terus menjadi bagian fungsi istana.

Kami meneruskan perjalanan mengitari kawasan Kebun Raya Bogor, menuntaskan satu putaran lebih sebelum menuju Lapangan Sempur. Di sepanjang jalur, pepohonan mencuri perhatian. Saya suka banget ini. Ada batang besar dengan akar gantung yang menjuntai, membentuk tirai panjang. Beberapa akar menebal dan menyatu, seolah pohon itu sedang menambahkan penyangga bagi tubuhnya sendiri.

Di hadapan pohon sebesar itu, kamera sulit menampung seluruh sosoknya. Saya mengambil gambar dari bawah. Pada kesempatan lain, rumpun bambu tinggi membuat pandangan kembali terangkat. Batang-batangnya rapat, dengan cahaya menyusup di antaranya. Menentukan jenisnya memerlukan pemeriksaan lebih rinci; saya memilih menikmati dulu pemandangan yang ada di depan mata.

Kebun Raya yang berdiri pada 1817 dahulu dikenal sebagai Lands Plantentuin, kebun botani pemerintah. Tumbuhan dari berbagai wilayah dikumpulkan dan diteliti di sini. Perpustakaan Universitas Leiden menyimpan kisah pelancong yang mengagumi lorong beringinnya. Pada akhir abad ke-19, tempat ini juga menarik ilmuwan Eropa untuk datang bekerja.

Penemuan kecil yang paling membuat saya penasaran justru bunga pada batang pohon. Semula saya mengira anggrek sedang menumpang hidup di sana. Bunganya merah muda kemerahan, dengan bentuk yang menarik dilihat dari dekat. Rupanya, cirinya sangat cocok dengan pohon meriam, Couroupita guianensis, yang berasal dari Amerika Selatan tropis.

Bunga itu tumbuh dari tangkai yang keluar langsung dari batangnya sendiri. Istilahnya kauliflori. Nama meriam merujuk pada buah bulat berkulit keras menyerupai peluru meriam. Saya menyukai kejutan seperti ini: berjalan kaki memungkinkan kita melihat sesuatu yang mudah terlewat ketika melintas dengan kendaraan. Dugaan keliru tentang anggrek malah mengantar pengetahuan baru.

Lapangan Sempur membawa kami ke suasana lain. Rumput hijau membentang, lintasan biru melingkar, dan tulisan SEMPUR menjadi latar foto kami berdua. Panjang lintasannya dilaporkan sekitar 323 meter satu putaran. Tiga putaran hampir satu kilometer. Bagi orang yang ingin berjalan teratur tanpa berpindah kawasan, ukuran itu memudahkan menghitung jarak.

Kawasan Sempur juga terkait dengan perluasan Buitenzorg yang dirancang Thomas Karsten sejak 1917. Gagasannya tentang kota taman menghubungkan hunian dengan ruang hijau. Dahulu penataan itu berlangsung dalam masyarakat kolonial yang tidak setara. Hari ini lapangannya menjadi ruang bersama, tempat warga datang berolahraga, membawa keluarga, atau sekadar menikmati waktu di luar rumah.