NADIKABAR.COM — Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) menyampaikan pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall untuk melindungi sekitar 50 hingga 55 juta penduduk yang tinggal di pesisir utara (Pantura) Jawa dari ancaman penurunan tanah hingga peningkatan banjir rob.

"Bapak Presiden Prabowo Subianto menindaklanjuti membuat Perpres tahun 2025 untuk membangun Tanggul Laut Raksasa mulai dari Tangerang, Banten, sampai dengan Gresik. Untuk apa? untuk melindungi masyarakat yang tinggal di pesisir, hampir lebih kurang 50 juta sampai 55 juta itu tinggal di pesisir utara Jawa" kata Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf dalam diskusi di Demonstration Plotting Perlindungan Kawasan Pesisir Pantai Utara Jawa berbasis Nature-based Solutions di Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah, Senin.

Dia menjelaskan, pembangunan tersebut menjadi penting mengingat kondisi pesisir utara Jawa yang semakin terdampak penurunan muka tanah dan banjir rob.

Kondisi itu terlihat di desa Timbulsloko, Sayung, Demak, Jawa Tengah, dengan sejumlah rumah dan sekolah yang telah tenggelam hingga hanya menyisakan bagian atap.

Sebagai langkah awal, BOPPJ melakukan percontohan atau demonstration plotting menggunakan mangrove.

"Yang mana ini nanti juga bisa dilakukan di desa-desa lainnya atau di pantai-pantai lainnya yang sejenis," katanya.

Didit menegaskan, pembangunan tanggul laut raksasa tidak hanya mengandalkan konstruksi fisik, tetapi juga mengombinasikan solusi berbasis alam atau nature-based solutions sesuai dengan karakteristik setiap kawasan pesisir.

Menurut dia, pembangunan tersebut membutuhkan koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa.

Dia mencontohkan kawasan Teluk Jakarta yang memiliki 23 kanal dari wilayah Jabodetabek-Puncak, Cianjur (Punjur) yang kemudian menjadi 12 kanal. Sejumlah kanal tersebut mengalami kerusakan sehingga memerlukan perbaikan, termasuk penanganan di bagian muara, melalui integrasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dia mengatakan, kawasan pesisir tidak hanya dihuni nelayan, tetapi juga petambak, petani, dan masyarakat yang bekerja di pabrik.

"Kalau ini sudah dapat berjalan dengan baik, maka kehidupan masyarakat yang ada di pesisir tentunya akan lebih meningkat," ujarnya.

Selain meningkatkan kehidupan masyarakat pesisir, pembangunan tersebut diharapkan memperbaiki kondisi kawasan pantai sekaligus mengatasi berbagai ancaman, seperti penurunan muka tanah, banjir rob, dan banjir saat hujan.

Didit meminta dukungan masyarakat, pemerintah daerah, serta kementerian/lembaga terkait agar program tersebut dapat berjalan sesuai dengan tujuan perlindungan kawasan Pantura Jawa.

"Kalau ini bagus, kita jalankan terus bersama-sama dengan yang lain," ujarnya.