Sudaryono belum menyebut penajaman anggaran karena adanya penyisiran sekolah elite. Sebab, pihaknya juga sedang menyisir data-data terindikasi ganda sekitar 6 juta penerima. Data ganda ini terjadi seperti siswa yang tercatat ganda sebagai pelajar SMP sekaligus santri di pondok pesantren.

"Jadi ada double-double itu semua kita sisir. Itu ada sekitar 6 jutaan, termasuk juga ada beberapa dapur yang kemarin sudah saya umumkan, ada 414 dapur yang ternyata dapurnya belum beroperasi tapi sudah dikirimi duit. Nah, itu kan uangnya sudah kita ambil, kita kembalikan ke kas negara Rp 311 miliar," jelasnya.