Kabut asap juga akan membuat petugas ATC menambah jarak pemisahan atau separation distance antar pesawat, terutama saat akan take off dan landing. Hal ini membuat jadwal penerbangan jadi sedikit terganggu.

Jika penerbangan di satu bandara terlambat karena terdampak karhutla, bisa menyebabkan keterlambatan di bandara-bandara lainnya karena adanya efek berantai operasional penerbangan.

Di sisi lain partikular asap, jelutong, dan abu juga berpotensi mengancam keselamatan penerbangan. Sebab partikel-partikel yang terbawa oleh asap itu dapat mengotori filter udara turbin mesin pesawat yang berujung pada penyumbatan tabung pitot-static yang sensitif, serta mempercepat ausnya komponen internal mesin jika terhirup terus-menerus.

Dampak operasional ini juga akan mengakibatkan biaya operasional maskapai penerbangan juga meningkat, seperti misalnya tambahan biaya tambahan bahan bakar akibat pesawat yang holding sebelum mendarat, biaya kompensasi keterlambatan penumpang, pengembalian dana tiket pada penerbangan yang dibatalkan, gangguan perputaran rotasi pesawat dan kru penerbangan atau flight crew scheduling, serta dampak-dampak lainnya.

Menurut Denon, dampak karhutla selain pada operasional penerbangan juga akan berdampak pada penumpang. Asap yang pekat tentu akan mengganggu kesehatan penumpang, terutama saat menuju, di dalam dan saat ke luar bandara.