"Produksi sawit nasional di tahun depan akan terkena dampak El Nino. Jika turun, ekspor berpeluang terpangkas menjadi 27 juta ton dari sebelumnya 32 juta ton pada tahun ini," katanya.

Eddy menyatakan Gapki berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun industri sawit yang produktif, berkelanjutan, inklusif dan berdaya saing.

"Harapan kami sawit tetap menjadi aset strategis bangsa untuk masa depan Indonesia," ujarnya.

Sementara itu Plt. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto menjelaskan pondasi utama transformasi industri sawit nasional adalah peningkatan produktivitas, oleh karena itu Program PSR memiliki peranan sangat strategis di mana bukan sekadar kegiatan mengganti tanaman sawit yang sudah tua atau tidak produktif dengan tanaman baru.

"PSR merupakan kesempatan untuk membangun kembali pondasi perkebunan rakyat agar lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut dia transformasi tata kelola industri sawit nasional juga harus menempatkan prinsip keberlanjutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan produktivitas dan daya saing.

"Keberlanjutan bukan semata-mata untuk memenuhi tuntutan pasar atau standar perdagangan internasional,” katanya.