Setiap jeriken diberi nama pemilik, sehingga warga tidak perlu menunggu lama saat pengisian.

"Dengan sistem antrean jeriken ini, masyarakat cukup menyerahkan jeriken yang diberi nama kepala keluarga dan mengambilnya kembali secara rutin setelah terisi. Layanan ini ini diterapkan demi memudahkan warga di wilayah Kelurahan Wae Kelambu agar mereka dapat menyesuaikan waktu pengambilan minyak tanah," ujar Wahyudi.

Dari hasil pengawasan, rata-rata konsumsi minyak tanah berada pada kisaran 2-2,5 liter per hari untuk setiap keluarga.

Pola tersebut menjadi salah satu gambaran kebutuhan energi rumah tangga di wilayah yang masih menggunakan minyak tanah.

Junari (42), warga yang menjadi pelanggan pangkalan mengatakan kebutuhan minyak tanah keluarganya sekitar 20 liter per bulan.

"Terima kasih kepada pemerintah karena minyak tanah di sini selalu tersedia," ujar dia.

Selain minyak tanah, Kepala BPH Migas juga memantau penyaluran Biosolar dan Pertalite di SPBU, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Pemantauan meliputi kualitas pelayanan, kualitas dan posisi CCTV, serta ketersediaan BBM.

Wahyudi menjelaskan kondisi pelayanan saat pemantauan berlangsung kondusif.