"JKN hadir untuk kebersamaan, untuk jaminan kesehatan. Kepesertaannya sekitar 98 persen penduduk Indonesia, namun kendalanya iuran. Banyak yang sakit baru mengurus, di situ masalahnya. Padahal, Kepesertaan BPJS Kesehatan aktif memiliki banyak manfaaat dan kemudahan layanan," ujarnya pula.

Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis pada kesempatan itu mengemukakan, Tasbih JKN ini diikuti 100 orang perwakilan ulama, dai dan daiyah dan tokoh agama se-Sulsel. Agar objektif, diberikan bekal keilmuan, ada training of Trainer (ToT) memahami tentang BPJS Kesehatan serta hubungannya dengan keagamaan.

"Kita laksanakan ini di seluruh Indonesia, kita mengambil simpul-simpul di kabupaten kota. Ini ada 100 peserta, dengan kekuatan 100 bisa menyebarkan kepada seribu dan sampai sepuluh ribu, modelnya berantai. Ini Angkatan pertama di Sulsel," kata Ketua Dewan Pengawas Syariah BPJS Kesehatan ini.Kolaborasi MUI sebagai mitra pemerintah dalam hal ini BPJS Kesehatan mendorong masyarakat terdaftar dan aktif. Kedua, program ini ada Ta'awun sifat tolong menolong dan Takaful, saling melindungi. Dana iuran masyarakat dikelola untuk membantu masyarakat lain, selain dana dari APBN.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Evy Mustikawati Arifin menambahkan, kepesertaan JKN aktfif tidak hanya kewajiban administratif, tetapi bagian dari ibadah sosial saling tolong-menolong. Pihaknya siap mendukung setiap upaya dilakukan BPJS Kesehatan agar masyarakat terjamin kesehatannya.