NADIKABAR.COM — BPJS Kesehatan mengapresiasi tambahan sebesar Rp20 triliun untuk Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan, yang diharapkan membantu menutup kesenjangan cash flow sebesar Rp14 triliun antara pendapatan iuran dengan biaya pengeluaran saat ini.

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah di Jakarta, Rabu, mengatakan hingga bulan ini pendapatan iuran tercatat sekitar Rp118 triliun, sementara biaya manfaat yang dibayarkan mencapai sekitar Rp132 triliun.

"Kesenjangan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan atau utilisasi layanan kesehatan oleh peserta JKN, termasuk pembiayaan penyakit berbiaya tinggi (katastropik) yang membutuhkan biaya besar seperti jantung, kanker, gagal ginjal, dan lain sebagainya," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan utilisasi tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung DJS Kesehatan.

Dia menyoroti masih adanya sekitar 52 juta peserta yang belum aktif membayar iuran, padahal peningkatan keaktifan peserta akan sangat membantu menjaga keberlanjutan pendanaan Program JKN. Di sisi lain, besaran iuran sudah sekitar enam tahun belum mengalami penyesuaian, sementara inflasi medis dan biaya pelayanan kesehatan terus meningkat.

"Keberlanjutan Program JKN tidak hanya bergantung pada tambahan pendanaan. Selanjutnya, BPJS Kesehatan siap mengikuti prosedur dan ketentuan yang tertuang dalam regulasi, termasuk regulasi yang mengatur tentang teknis pencairan dana dan mekanisme pertanggungjawabannya. Komitmen kami adalah memastikan dana tersebut dikelola secara transparan, akuntabel, dan penuh dengan kehati-hatian," katanya.

Sebagai langkah memperkuat Program JKN secara berkelanjutan, BPJS Kesehatan terus mendorong peningkatan keaktifan peserta dalam membayar iuran, memperkuat pengendalian biaya dan pencegahan fraud, serta melakukan transformasi sistem pembayaran dan pelayanan kesehatan.

Di saat yang sama, BPJS Kesehatan juga terus mendorong penguatan upaya promotif dan preventif bersama fasilitas kesehatan dan para pemangku kepentingan, karena masyarakat yang lebih sehat merupakan kunci utama untuk menjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang.

"Ke depan, kami akan mendorong pergeseran dari pendekatan volume based menjadi value based healthcare, sehingga layanan kesehatan tidak hanya berorientasi pada jumlah layanan yang diberikan, tetapi juga pada kualitas hasil layanan yang diterima peserta," katanya.

Dengan pendekatan ini, pelayanan kesehatan diharapkan menjadi lebih tepat sasaran, efektif, efisien, serta memberikan luaran kesehatan yang lebih baik bagi peserta. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan Program JKN sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh akses layanan kesehatan yang berkualitas.